Breaking News

Isra’ Mi’raj-Dari Iman Menuju Tindakan Nyata


Tulisan RISNALDI.S.SI (KETUA HIMMI), KEPULAUAN MERANTI- Iman yang benar dan niat yang ikhlas harus berbuah amal nyata. Tanpa amal, iman menjadi lemah dan keikhlasan kehilangan wujudnya. Islam bukan agama wacana, melainkan agama gerak dan perbuatan. Kebangkitan umat tidak pernah lahir dari slogan semata, tetapi dari amal yang konsisten, terarah, dan berdampak bagi kehidupan.

Allah SWT menegaskan keterikatan iman dan amal dalam banyak ayat-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, mereka itulah sebaik-baik makhluk.”

(QS. Al-Bayyinah: 7)

Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan seorang mukmin tidak cukup dengan iman di hati, tetapi harus dibuktikan melalui amal shalih yang nyata.

Amal sebagai Bukti Kejujuran Iman

Iman yang tidak melahirkan amal ibarat pohon tanpa buah. Rasulullah SAW bersabda:

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”

(HR. Tirmidzi)

Akhlak yang baik adalah bentuk amal yang hidup—terlihat dalam sikap, kepedulian, kejujuran, dan tanggung jawab sosial. Karena itu, amal dalam Islam mencakup ibadah ritual dan pengabdian sosial secara menyeluruh.

Isra’ Mi’raj dan Amal yang Mengubah Kehidupan. 

Peristiwa Isra’ Mi’raj melahirkan perintah shalat, bukan sekadar sebagai ritual pribadi, tetapi sebagai mesin penggerak amal sosial.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”

(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Shalat yang benar akan membentuk pribadi yang jujur, disiplin, dan peduli. Jika shalat tidak melahirkan perubahan perilaku dan kepedulian terhadap umat, maka ada yang salah dalam pemahamannya.

Contoh yang bisa di lihat dari teladan Rasulullah SAW yakni Amal yang Membumi. 

Rasulullah SAW adalah teladan puncak dalam amal. Beliau tidak hanya mengajarkan kebaikan, tetapi menjalankannya lebih dahulu.

1. Rasulullah SAW membantu pekerjaan rumah tangga.

2. Beliau menyantuni fakir miskin, anak yatim, dan janda.

3. Beliau membangun pasar Madinah yang adil dan bebas riba.

4. Beliau mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar sebagai solusi nyata krisis sosial.

Aisyah RA berkata:

“Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an.”

(HR. Muslim)

Artinya, Al-Qur’an hidup dalam amal Rasulullah SAW.

Kita sudah tau juga bagaimana amal Para Sahabat yang menunjukkan Kerja Nyata untuk Umat.

1. Abdurrahman bin Auf RA

Datang ke Madinah tanpa harta, ia bekerja keras hingga sukses, lalu menginfakkan hartanya untuk umat. Ia membuktikan bahwa amal ekonomi adalah bagian dari ibadah.

2. Umar bin Khattab RA

Sebagai khalifah, Umar RA memikul gandum sendiri untuk rakyatnya. Ia berkata, “Jika seekor keledai terperosok di Irak, aku khawatir Allah akan menanyakannya kepadaku.”

Ini adalah amal kepemimpinan yang penuh tanggung jawab.

3. Abu Hurairah RA

Mengabdikan hidupnya untuk menjaga dan meriwayatkan hadits Rasulullah SAW. Amal ilmu menjadi warisan umat hingga hari ini.

Salafus Shalih,bagaimana amal yang Konsisten dan Ikhlas. 

Para salafus shalih memahami bahwa amal kecil yang istiqamah lebih bernilai daripada amal besar yang terputus.

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

“Bukanlah iman itu dengan angan-angan, tetapi apa yang tertanam di hati dan dibuktikan dengan amal.”

Imam Ahmad bin Hanbal tetap mengajar dan berjuang di tengah ujian mihnah, membuktikan bahwa amal menjaga kebenaran adalah jihad sepanjang zaman.

Paling dekat dengan kita Pejuang Indonesia bagaimana amal sebagai Wujud Iman dan Cinta Tanah Air.

Di Indonesia, nilai amal menjadi ruh perjuangan kemerdekaan.

KH. Hasyim Asy’ari

Melalui Resolusi Jihad 1945, beliau menggerakkan umat untuk mempertahankan kemerdekaan sebagai kewajiban agama. Ini adalah amal kolektif yang menyatukan iman dan nasionalisme.

KH. Ahmad Dahlan

Mewujudkan amal melalui pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. Dakwah tidak hanya di mimbar, tetapi hadir di sekolah, rumah sakit, dan masyarakat.

Teuku Umar dan Cut Nyak Dien

Berjuang melawan penjajahan dengan keyakinan bahwa membela tanah air dari kezaliman adalah bagian dari amanah iman.

Mereka membuktikan bahwa amal shalih juga berarti membangun bangsa, menegakkan keadilan, dan membela yang tertindas.

Semua contoh amal ini sebagai Jalan Persatuan dan Kebangkitan

Amal yang benar menyatukan umat karena ia menyentuh kebutuhan nyata masyarakat. Ketika umat sibuk beramal—mendidik, menolong, membangun ekonomi, menjaga keadilan—maka ruang konflik dan perpecahan akan menyempit.

Allah SWT berfirman:

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan takwa.”

(QS. Al-Ma’idah: 2)

Amal kolektif adalah jembatan persatuan dan fondasi kebangkitan umat.

Jika pemahaman adalah arah dan keikhlasan adalah niat, maka amal adalah bukti. Kebangkitan umat tidak lahir dari banyaknya wacana, tetapi dari tangan-tangan yang bekerja, hati yang peduli, dan langkah yang konsisten.

Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa naiknya derajat umat di sisi Allah harus dibuktikan dengan hadirnya Islam sebagai solusi nyata di bumi.



Editor : B’76

Type and hit Enter to search

Close