RISNALDI.S.SI, KETUA HIMMI, Kepulauan Meranti- Tidak ada persatuan tanpa kepercayaan. Tidak ada kebangkitan tanpa persatuan. Maka, kepercayaan adalah fondasi terakhir yang menentukan apakah umat akan bangkit atau runtuh.
Kepercayaan adalah jembatan yang menghubungkan iman di hati dengan kerja kolektif di lapangan. Ketika kepercayaan hancur, umat mudah curiga, saling menjatuhkan, dan kehilangan arah bersama.
Allah SWT menegaskan:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.”
(QS. At-Taubah: 119)
Kejujuran adalah inti kepercayaan. Tanpanya, iman kehilangan daya sosial, dan persatuan berubah menjadi slogan kosong.
Makna Kepercayaan: Lebih dari Sekadar Keyakinan
Kepercayaan (tsiqah) dalam Islam bukan sekadar percaya di hati, tetapi ketenangan untuk bekerja bersama. Kepercayaan melahirkan:
- keberanian untuk bersatu
- kesiapan untuk taat
- kemauan untuk berkorban
- kesanggupan untuk bertahan dalam ujian
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Cinta yang tulus hanya tumbuh di atas kepercayaan. Tanpa kepercayaan, cinta berubah menjadi syarat dan kecurigaan.
Membangun Umat yang di contohkan Rasulullah SAW dengan Kepercayaan
Gelar Al-Amin yang terpercaya melekat pada Rasulullah SAW bahkan sebelum kenabian. Kepercayaan masyarakat Makkah kepada kejujuran beliau menjadi pintu masuk dakwah Islam.
Di Madinah, Rasulullah SAW membangun:
- kepercayaan antarindividu melalui akhlak
- kepercayaan sosial melalui persaudaraan Muhajirin–Anshar
- kepercayaan politik melalui Piagam Madinah
- kepercayaan kepemimpinan melalui keteladanan, bukan paksaan
Kepercayaan inilah yang membuat umat rela taat, berkorban, dan berjuang bersama.
Para Sahabat: Kepercayaan yang Melahirkan Kekuatan
Para sahabat taat kepada Rasulullah SAW bukan karena takut, tetapi karena percaya penuh pada kebenaran, kejujuran, dan kasih sayang beliau.
- Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dipercaya memimpin karena integritasnya.
- Umar bin Khattab RA ditaati karena keadilannya.
- Utsman bin Affan RA dipercaya karena amanahnya.
- Ali bin Abi Thalib RA diikuti karena ilmunya dan kebijaksanaannya.
Kepercayaan menjadikan kepemimpinan kuat tanpa harus represif.
Krisis Kepercayaan Umat Hari Ini
Salah satu penyakit paling berbahaya umat hari ini adalah krisis kepercayaan:
- tidak percaya pada sesama
- curiga pada kepemimpinan
- mudah termakan fitnah
- lebih cepat menyalahkan daripada memperbaiki
Akibatnya:
- persatuan rapuh
- ekonomi sulit tumbuh
- organisasi lemah
- perjuangan mudah pecah
Allah SWT mengingatkan:
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.”
(QS. Al-Hujurat: 12)
Umat yang hidup dalam prasangka tidak akan pernah kuat.
Kepercayaan dan Palestina: Ujian Global Umat
Palestina adalah ujian besar kepercayaan umat Islam global. Bukan hanya percaya pada berita dan penderitaan mereka, tetapi percaya bahwa persatuan dan keteguhan umat masih mungkin.
Kepercayaan diuji ketika:
- isu tidak lagi viral
- hasil tidak cepat terlihat
- perjuangan terasa panjang
Jika umat kehilangan kepercayaan pada doa, amal, dan persatuan, maka perjuangan Palestina akan melemah. Namun jika kepercayaan dijaga, harapan tidak akan mati.
Allah SWT berfirman:
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Membangun Kembali Kepercayaan: Apa yang Harus Dilakukan?
Kepercayaan tidak lahir dari pidato, tetapi dari perilaku konsisten.
Beberapa langkah membangun kembali kepercayaan umat:
1. Kejujuran dalam niat dan tindakan
2. Transparansi dalam kepemimpinan dan pengelolaan amanah
3. Menepati janji, meski kecil
4. Menghentikan fitnah dan adu domba
5. Menguatkan budaya saling percaya dan bekerja bersama
Rasulullah SAW bersabda:
“Tunaikan amanah kepada orang yang mempercayaimu.”
(HR. Abu Dawud)
Pesana untuk Generasi Muda
Generasi muda hidup di era krisis kepercayaan. Banyak yang sinis, apatis, dan enggan percaya pada siapa pun. Namun umat tidak akan bangkit dengan sinisme.
Kepercayaan generasi ini adalah:
1. berani jujur saat yang lain menipu
2. konsisten saat yang lain berubah-ubah
3. membangun saat yang lain mencibir
4. berharap saat yang lain putus asa
Kepercayaan adalah keberanian moral.
Kesimpulan
Kepercayaan sebagai Kunci Akhir Kebangkitan
Jika umat kehilangan kepercayaan, maka semua nilai sebelumnya runtuh. Namun jika umat menjaga kepercayaan kepada Allah, kepada ajaran Islam, dan kepada sesama maka kebangkitan bukan sekadar impian.
Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa setelah menerima amanah besar dari langit, Rasulullah SAW dipercaya untuk menunaikannya di bumi. Dan beliau menunaikannya dengan sempurna.
Kini amanah itu berada di tangan umat.
Dengan kepercayaan, umat akan bangkit.
Tanpa kepercayaan, umat akan runtuh.
Inilah fondasi terakhir dan pintu menuju masa depan.
Editor : B'76


Social Footer